22.7.11

Kopi senja

weheartit
@Embun_senyawa : aku ingin menjadi gula dalam kopimu dengan kepahitan yang kau punya
@quini_uke : seberapa manis kau bisa bertahan ditengah kepahitanku hei embun senyawa
@Embun_senyawa : manisku tak bertahan ditengah melainkan di dasarmu menyatu dengan ampas pahitmu.
@quini_uke : seperti ingin menegukmu pagi ini, membiarkanmu menari-nari di lidahku mengusir pahit yang menguasai hari ini
@Embun_senyawa : Rasakan dan tandaskan tegukanmu aku akan mencari celah pahitmu dan mengubur dengan manis gulaku
@quini_uke :*angkat bendera putih*
@Embun_senyawa : Sebenarnya aku masih ingin bertempur, itu siasatmu akan kubalas kau dengan kedamaian.
@quini_uke : Kau terlalu tangguh untuk dilumuri pahit, kuterima damaimu asalkan tanpa senyap yang membunuh
@Embun_senyawa : Ketangguhanku ada di kedamaian pahitmu, aku melengkapinya di kopi senja, terlihat hitam, dan hanya rasa tak mengubah warna
@quini_uke : dan seketika aku dan langit hening, senja luntur berubah pekat, aku yang didekap kepahitan meneguk sedikit demi sedikit senjamu
@Embun_senyawa : Semakin gelap aku menari di panggung rembulan pada keranda tak bertuan, mimpi dan bintang bertepuk tangan.
@quini_uke : Aku mematung dalam gelap meranggas kekosongan , ahh..aku dikalahkan mimpi dan bintang yg menyeringai senang


Anggaplah seperti ini jika di dunia nyata :
Suatu senja yang biasa-biasa saja, aku sedang duduk sendirian dalam sebuah warung kopi yang sangat ramai, semuanya sedang asyik dengan dunianya, ada yang membicarakan tentang betapa boroknya pemerintah saat ini, ada yang berdebat sengit tentang hak asasi manusia, ada yang sedang memberikan wejangan pemulihan jiwa, dan apapun itu.
Dan apa yang aku lakukan, hanya duduk sendiri dengan pikiran yang berkecamuk, hanya ditemani secangkir kopi dan tidak peduli dengan keadaan sekitar. Kemudian dia datang juga dengan secangkir kopi karena tak ada tempat duduk yang kosong dia meminta untuk bisa duduk di mejaku. Dan bercakaplah kami seakrab teman lama dalam percakapan yang tak biasa dan dilakukan tanpa rasa, tanpa ada pertanyaan retorika... Hanya berbekal pengetahuan bahwa aku perempuan dan dia laki-laki.. tanpa ada rasa ingin saling tahu tentang semuanya.
Senja luruh, saya harus pergi, dan dia harus pergi..dan kemudian kami kembali menjadi asing satu sama lain..


sf


No comments: