27.11.10

Menikmati Jeda

weheartit



Itu berarti saya sedang duduk menunggu.
Dan semua indera jadi merasakan fungsinya..
Memanjakan tepatnya.
Melihat lebih dekat..mendengar lebih keras..merasakan lebih akrab.
Kau tak sekedar melihatnya tapi menjadi lebih intim dengan dirimu sendiri..
berkeluh kesah tentang apa saja,
dan menikmati apa saja yang terjadi di hadapanmu.
Langkah-langkah yang bergegas, wajah-wajah letih dan yang tertawa, gurauan anak-anak, raungan kendaraan, bahkan bau pesing di ujung jalan.
Tapi yang sering menghampiriku dan aku suka adalah sinar matahari yang menggelitik, suara angin yang berbisik, lambaian dedaunan, atau bahkan senyuman lembut sang bunga.
..Aku suka..
karena ketika itu aku bisa melamun sesuka hatiku_
kembali menjadi diriku..
kembali berjelajah ke dalam hati yang sempat hilang ditempa penat.

Hei, jangan cepat datang dulu..
aku sedang menikmati saat ini, saat ketika menunggumu..
Menunggu mengajarkanku untuk mengerti arti rindu itu..
karena menunggu...
membuat rindu membuncah, hingga tumpah dan meminta untuk melompat keluar.
Karena sering menunggu, membuatku selalu rindu denganmu.


love
sf

26.11.10

yang balon katakan tentang kamu...

weheartit


aku hamil oleh udara
aku semarak oleh pelangi
aku senang saat bersama..

sungguh aku sangat bahagia saat bersama
aku bahagia saat kau genggam..
aku senang kalian tak pernah membawaku di pemakaman..
aku juga sedih sepertimu..

aku suka dengan senyummu, angin yang menggelitik,
matahari yang menggoda, rasa takut yang menawar,
...
aku suka kau memberiku nama seindah pelangi
...

jangan pernah melepasku ..
karena aku takkan pernah kembali.
selalu tidak ada kesempatan kedua untuk ini.

jangan pernah menyiramiku dengan kata-kata tajam...
karena aku takkan pernah bisa utuh lagi.
selalu tidak ada kesempatan kedua untuk ini.

tapi perasaanku akan tetap sama..
selalu cinta yang tetap sama..
meski kau berkhianat
...
sungguh


sf


20.11.10

jendela, meja, dan rumput hijau...

hal termewah yang sangat ingin kumiliki saat ini, hanyalah : jendela, meja, dan rumput hijau...

19.11.10

15.11.10

Lelaki itu pergi meninggalkan rumah..

Sebelah kiri : Ayah (bersama teman-temannya)



Ini tak akan merubah apa-apa, dan tak akan membuatmu kembali.
Ini bahkan mungkin tak didengarkan sama sekali.
Tapi tak mengapa...Ini memang untukmu, tentang dirimu menurut kepalaku.

Ayah adalah selembar foto usang...
Ayah adalah cerita orang-orang...
Ayah adalah gundukan tanah...

Aku hampir dua tahun waktu itu ketika Tuhan mengambilmu.
Aku mereka-reka apa yang dapat direkam oleh anak seusia itu. Aku mengatakan tidak ada.
Semuanya tak berbekas, tidak ada.
Setiap saat ketika begitu ingin memindai tentang dirimu, kurogoh kantong ingatan yang kupunya,
tapi tak ada, tak sekeping pun tentangmu Ayah.
  
Bahwa menjadi tahu dan mengerti membuat perasaan menjadi sesak, 
rasa ingin tahuku menggila.. Aku sungguh sangat ingin berkenalan denganmu..
Pernah terlintas untuk menculik Ayah mereka-mereka..tak tahukah engkau hal itu Ayah..?
Tapi urung, aku takut mereka akan bersedih sepertiku.. 
Jadi sekarang jika melihat Ayah mereka-mereka aku hanya akan memotretnya dalam ingatan.. 
Memandanginya dengan binaran mata anak kepada Ayahnya.

Mengapa kita tak memiliki kesempatan itu untuk berkenalan Ayah?
Mengapa kita tak memilki waktu yang banyak bersama?
...agar ketika aku mengingatmu aku bisa memilih saat yang begitu ingin kukenang...tapi tak ada..

Tahukah kau arti merindukan seseorang yang kau sama sekali tak bisa mengingatnya..
_bagaimana rupa wajahmu, suaramu, bagaimana caramu berjalan, apa makanan kesukaanmu...
Aku tak pernah tahu itu...

Tahukah kau kalau kata "Ayah" sangat asing buatku...
menyebut, memanggil kata "Ayah"...selalu membuat perasaan menjadi sendu..
...maaf..
Maaf jika membuatmu terluka...
Maaf jika tak pernah berkunjung ke rumahmu...
Aku tak pernah suka hanya berdiri di depan rumahmu saja...
dan berpikir ada dirimu yang berbaring di dalamnya..
Aku ingin lebih dari itu...
Aku ingin bertemu...

...maaf...
Maaf ..telah membiarkan wajahmu memudar diingatanku...
tapi saya bahagia bisa menjadi anak perempuan dari seorang Ayah sepertimu
Ayah..aku mencintaimu, merindukanmu...sangat
sungguh

Ayah datanglah berkunjung sekali-kali ke mimpiku


love 
sf

13.11.10

Letter from Kurt

To : Boddah


Selama beberapa tahun terakhir ini saya sudah tak bisa merasakan lagi kegembiraan dalam mendengar, meresapi dan juga menciptakan musik. Saya merasa bersalah akan hal ini, contohnya ketika kami ada di bawah panggung, dan lampu-lampu pangung menyala serta orang-orang berdesakan menunggu kami sambil berteriak histeris. Itu tidak mempengaruhi saya seperti halnya mempengaruhi FREDDIE MERCURY, yang notabene sangat menyukai dan menikmati kekaguman penonton di bawah panggung. Semua itu merupakan sesuatu yang sangat saya kagumi sekaligus membuat saya iri. Faktanya adalah saya tak bisa membohongi kamu, kalian semua, atau saya sendiri, ini jelas tidak adil bagi kalian dan juga bagi saya.

Kejahatan terburuk yang pernah saya lakukan adalah berpura-pura kepada semua orang bahwa saya orang yang sangat bahagia 100%. Kadang saya merasa perlu adanya dorongan jam waktu sebelum saya naik ke atas panggung. Saya sudah mencoba sekuat tenaga saya untuk menghargainya. Dan saya benar-benar menghargai hal itu. Tuhan mempercayaiku, dan saya juga. Tapi itu tidak cukup. Saya menghargai kenyataan bahwa saya dan kami (NIRVANA) telah mempengaruhi dan menghibur begitu banyak orang. Saya pasti salah satu tipe orang narsitis yang hanya menghargai sekeliling ketika saya sendirian. Saya terlalu sensitif, saya perlu sedikit mati rasa untuk menghadirkan kembali keantusiasan saya semasa kecil dulu. Dalam beberapa tour terakhir ini, saya telah belajar banyak menghargai orang-orang yang saya kenal secara dekat dan juga penggemar musik kami. Tapi saya tetap tidak bisa menghilangkan rasa frustasi, perasaan bersalah, dan empati saya kepada semua orang.

Ada kebaikan di antara kita semua, dan saya benar-benar mencintai umat manusia secara keseluruhan, sangat mencintai sampai itu membuat saya sedih. Awalnya kehidupan saya sangat baik, dan saya bersyukur. Tapi sejak berumur 7 tahun, saya mulai membenci umat manusia secara keseluruhan. Hanya karena begitu mudahnya orang berteman dan merasakan empati. Dan saya rasa, saat ini saya memiliki empati, karena saya sangat menyayangi dan merasa peduli kepada semua orang.

Terima kasih dari lubuk hati saya yang terbakar dan menyakitkan ini atas perhatian dan surat-surat yang saya terima selama setahun terakhir ini. Saya pasti  orang  yang sangat sensitif dan tidak mempunyai harapan lagi. Jadi ingatlah, lebih baik padam daripada pudar.

Peace, love, Emphaty
Kurt Cobain